semua berawal dari teman Part 1

Author Avatar

CStream

Joined: Aug 2025

Pergolakan Pikiran di Balik Pintu Kamar

Malam itu, seharusnya menjadi malam yang biasa. Aku pulang kerja dengan harapan bisa merebahkan diri di samping Siska, istriku, dan berbagi cerita seharian. Namun, saat kakiku melangkah mendekati kamar tidur utama kami, telingaku menangkap suara yang membuat jantungku mencelos. Bukan suara televisi, bukan musik. Itu… desahan. Desahan yang familiar, desahan Siska. Tapi bukan yang biasa kudengar saat kami berdua. Ini lebih liar, lebih putus asa, bercampur dengan suara erangan berat seorang pria yang asing bagiku—atau setidaknya, yang seharusnya asing di ranjang kami.

Keringat dingin membasahi punggungku. Otakku berputar, mencoba menyangkal apa yang sudah jelas. Aku mendekat perlahan, langkahku seolah menginjak ranjau. Pintu kamar, yang biasanya tertutup rapat, sedikit menganga. Dari celah sempit itu, aku melihatnya.

Duniaku runtuh dalam sekejap.

Siska. Istriku. Telanjang bulat, membelakangi pintu. Punggungnya basah oleh keringat, otot-ototnya menegang dan melengkung dalam ekstase. Di bawahnya, memompanya dengan buas dari belakang, adalah Andi. Temanku. Teman yang sering minum kopi di teras rumahku, teman yang pernah meminjam uang padaku, teman yang selalu kuceritakan tentang betapa beruntungnya aku memiliki Siska.

Kepalanya menunduk, wajahnya tersembunyi di bahu Siska, sementara tangan kekarnya meremas penuh nafsu payudara Siska yang terayun-ayun di depan. Setiap hentakan pinggul Andi yang telanjang dan berotot itu membuat pantat Siska bergetar, menjepit penisnya semakin dalam. Aku bisa melihat pantat Siska yang indah, memerah karena tamparan atau gesekan, terangkat tinggi-tinggi, sementara celah pantatnya yang basah kuyup memamerkan lubang anus yang mengerut nakal.

“Ahhh… Ahhh, Ndi… lebih dalam… fuck!… lebih dalam lagi!” Siska mengerang, suaranya parau dan serak, bercampur dengan ludah dan gairah. “Ohhh, anjing… enak banget tititmu… lebih gede dari punya suamiku… lebih keras, uhhh!”

Kalimat terakhir itu… menusukku lebih tajam dari pisau belati. Darahku mendidih. Amarah membakar ubun-ubunku. Teman bangsat, istri jalang! Bagaimana mereka bisa? Di ranjang kami? Ranjang tempat aku dan Siska merajut ribuan malam gila penuh cinta dan nafsu.

Tanpa pikir panjang, aku mendobrak pintu hingga terbanting ke dinding. BRAAK!

Siska dan Andi sontak membeku. Gerakan mereka terhenti. Andi yang tadinya memompa Siska dengan brutal, kini kaku di atasnya, penisnya masih menancap dalam di lubang Siska yang basah. Siska yang tadinya liar, kini menunduk, wajahnya memucat pasi, rambutnya kusut menutupi sebagian wajahnya. Hanya suara napas mereka yang terengah-engah yang memecah keheningan yang mencekam.

“APA-APAAN INI, BANGSAT?!” teriakku, suaraku serak karena amarah yang meluap. “KAU… KAU JALANG! DAN KAU, ANDI, TEMAN BRENGSEK! BERANI-BERANINYA KALIAN BERZINAH DI RANJANGKU SENDIRI?!”

Andi buru-buru menarik penisnya keluar dari Siska. Suara plop basah yang memuakkan mengiringi keluarnya kontol besar itu dari memek Siska yang basah dan bengkak. Siska terhuyung, berbalik menghadapku, berusaha menutupi payudaranya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam, air mata mulai mengalir di pipinya. Andi, dengan kontolnya yang masih tegang dan berkedut-kedut, buru-buru meraih selimut dan menutupinya, meskipun tidak berhasil menutupi pantatnya yang telanjang dan keringatnya yang mengkilap.

“Maafkan aku, Ferdi… maafkan aku… aku… aku khilaf…” Siska terbata-bata, air matanya kini membanjiri wajahnya.

“Khilaf?! KAU SEBUT INI KHILAF?! KAU BERJANJI SETIA DI DEPAN TUHAN DAN SEKARANG KAU JALANG DI DEPAN TEMANKU?!” raungku. Aku mencengkeram rahang Siska, memaksanya menatapku. Matanya dipenuhi rasa bersalah, ketakutan, dan… entah kenapa, aku melihat sedikit sisa gairah di sana.

Pandanganku beralih pada Andi. Dia menunduk, ketakutan. “Ferdi, aku minta maaf… aku… aku benar-benar salah…”

Aku melangkah mendekati Andi, siap melayangkan pukulan. Namun, saat kakiku melangkah, mataku tanpa sengaja kembali tertuju pada Siska. Pada tubuh telanjangnya yang basah kuyup, payudaranya yang montok, perutnya yang rata, dan memeknya yang tampak bengkak dan merah, masih menganga sedikit, mengeluarkan sedikit lendir sisa persetubuhan mereka. Aroma seks yang pekat memenuhi ruangan, aroma tubuh Siska yang bercampur dengan keringat Andi…

Sesuatu dalam diriku bergejolak. Amarahku, yang tadinya membakar, perlahan mulai bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap, kotor, dan sangat terlarang. Aku melihat Siska yang baru saja menikmati kontol temanku. Aku melihat bagaimana tubuhnya menggeliat, bagaimana matanya memejam penuh nafsu, bagaimana ia mendesah nama Andi. Dan anehnya… di tengah semua kemarahan ini, ada secercah hasrat yang ganjil.

Aku melihat kontol Andi yang masih setengah tegang, berkedut-kedut di balik selimut. Aku membayangkan kontol itu menembus Siska. Dan anehnya… aku ingin melihatnya lagi. Bukan untuk marah, tapi… untuk merasakan. Untuk ikut serta.

“Jadi… kontol Andi lebih besar dari punya suamimu, ya?” suaraku berubah. Tidak lagi melengking karena marah, tapi lebih rendah, lebih serak, penuh ironi.

Siska mengangkat kepalanya, bingung dengan perubahan nada suaraku. Matanya yang sembab menatapku.

“Kau bilang… kontol Andi lebih keras? Lebih enak?” Aku berjalan pelan mengelilingi tempat tidur, mengamati mereka berdua. Mataku menelanjangi Siska, kemudian Andi. “Kalian menikmati sekali, ya? Di ranjangku… di kamar kami?”

Andi masih menunduk. Siska tidak menjawab, hanya terisak.

“Dengarkan aku baik-baik,” kataku, kini berdiri di antara mereka berdua. “Kalau kalian melakukannya berdua saja, itu… itu menjijikkan. Itu pengkhianatan. Itu dosa.” Aku berhenti sejenak, menatap mata mereka satu per satu. “Tapi… kalau kita bertiga… itu lain cerita.”

Mata Siska membelalak. Andi mengangkat kepalanya, tatapannya antara bingung dan ketakutan.

“Apa maksudmu, Ferdi?” Siska berbisik, suaranya hampir tak terdengar.

Aku tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. “Maksudku… kalau aku harus melihat istriku dinikmati pria lain, aku ingin tahu rasanya. Aku ingin tahu kenapa dia bilang kontol pria lain lebih enak.” Aku menoleh pada Andi. “Kau, Andi. Kau harus tunjukkan padaku. Bagaimana kau membuat istriku mendesah seperti itu.”

Andi menggelengkan kepala, “Ferdi, aku tidak bisa… ini gila…”

“Gila?” Aku mencengkeram kerah bajunya, menariknya mendekat. “Kau pikir aku tidak gila setelah melihat istriku kau kontoli di ranjangku sendiri? Pilihanmu cuma dua, Ndi. Aku hajar kau sampai babak belur dan aku ceraikan Siska… atau… kita semua merasakan kegilaan ini bersama.”

Siska terisak lagi. “Ferdi… jangan… ini salah…”

“Salah?” Aku mencengkeram dagu Siska, memaksanya mendongak. “Kau sudah terlanjur melakukan kesalahan. Sekarang, kita perbaiki… dengan caraku.” Mataku menjelajahi setiap inci tubuhnya. “Aku ingin melihatmu. Aku ingin mendengarmu. Aku ingin merasakanmu dengan dua kontol di sekitarmu.”

Perlahan, rasa takut di mata Siska bercampur dengan sesuatu yang lain. Rasa penasaran? Atau mungkin, gairah terlarang yang masih bergejolak di dalam dirinya?

Aku melepaskan cengkeramanku dari Siska dan Andi. Aku melangkah mundur, melepas kemejaku, kemudian celanaku. Satu per satu, aku menanggalkan setiap helai pakaian, membiarkan tubuhku telanjang di depan mereka. Kontolku, yang sedari tadi tegang dan berdenyut karena kombinasi amarah dan nafsu, kini berdiri kaku, menatap mereka seperti sebuah tuduhan sekaligus ajakan.

“Andi, lepas selimutmu. Siska, duduklah di pinggir ranjang.” Perintahku tegas, tak terbantahkan.

Andi ragu-ragu, tapi melihat ekspresiku yang gelap dan tak main-main, dia perlahan melepaskan selimutnya. Kontolnya yang besar, sedikit melengkung ke atas, masih ereksi sempurna, menari-nari di antara kedua kakinya. Siska, dengan air mata yang masih mengering di pipi, perlahan duduk di pinggir ranjang, kakinya terkulai lemas.

Aku melangkah mendekati Siska terlebih dahulu. Aku mendorong kakinya agar terbuka lebar. “Biarkan aku melihat memekmu, jalang.”

Siska mengernyit, tapi tidak menolak. Dia membuka kakinya. Di antara kedua pahanya, memeknya masih merah, basah, dan sedikit membengkak. Labia mayornya tampak merekah, sementara klitorisnya yang kecil mengintip malu-malu di balik tudungnya. Aroma amis dan manis bercampur, aroma seks yang baru saja usai dan siap untuk dimulai lagi.

Aku berlutut di depan memeknya, menunduk, dan menjilatnya.

Siska tersentak. “Ferdi!”

“SHHHH…,” aku mendesis, lidahku melesak masuk ke celah memeknya, menjilati lendir hangat yang masih banyak tersisa. Rasa asam bercampur manis membanjiri lidahku. Aku mulai mengulum klitorisnya, menghisapnya dengan lembut, lalu mengulumnya dalam-dalam.

“Ahhh… ohhh… Ferdi…” Siska mendesah, tubuhnya mulai menggeliat lagi. Tangannya mencengkeram seprai erat-erat.

Andi, yang sedari tadi hanya berdiri mematung, kini terangsang melihat adegan itu. Kontolnya berkedut-kedut semakin kencang, memuntahkan setetes pre-cum yang bening dari lubangnya.

Aku tahu apa yang kuinginkan. Aku ingin melihat Siska gila di bawah dua pria. Aku ingin dia berteriak, mengerang, dan merasakan segalanya.

Aku melepas mulutku dari memek Siska. Wajah Siska sudah memerah lagi, matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka.

“Andi, kemari,” kataku.

Andi melangkah mendekat, kontolnya sudah berdiri tegak dan menari-nari penuh semangat. Aku meraih kontol Andi, memegangnya. Ukurannya memang sedikit lebih besar dari punyaku, dan batangnya lebih tebal. “Kau memang punya kontol bagus, Ndi. Tidak heran istriku betah.” Aku tersenyum gelap. “Sekarang, tunjukkan pada suaminya bagaimana kau mengisinya.”

Aku mendorong Andi agar berlutut di belakang Siska, yang kini sudah berbaring telentang di ranjang, kakinya terbuka lebar. Siska menatapku dengan tatapan takut bercampur gairah.

“Aku akan masuk dari depan, Ndi. Kau masuk dari belakang,” kataku.

Siska terkesiap. “Dua-duanya?”

“Kenapa tidak? Kau bilang kontol Andi enak. Aku ingin kau merasakan dua kontol sekaligus. Kontol suamimu, dan kontol bajingan yang kau jilati di belakangku.”

Andi ragu, tapi aku meraih pinggangnya dan memaksanya mendekat. “Masuk, Ndi! Atau aku akan patahkan kontolmu!”

Andi menelan ludah, lalu perlahan mendorong kontolnya ke dalam lubang pantat Siska yang kini sudah basah dan sedikit menganga. Kontolnya yang besar melesak masuk, membuat Siska mengerang keras.

“Ahhh! Ohhh, sakit Ndi… tapi… enak…,” Siska menjerit, tubuhnya melengkung.

Melihat kontol Andi menancap di pantat Siska, gairahku semakin tak terbendung. Aku memposisikan diriku di depan Siska, memegang kedua pahanya agar terbuka selebar-lebarnya. Kontolku yang tegang menempel di klitoris Siska.

“Siap, jalang?” aku mendesis.

Siska hanya mengangguk, matanya terpejam, air matanya kini bercampur dengan gairah yang membabi buta.

Aku mendorong kontolku masuk ke dalam memek Siska. Lubangnya yang basah dan panas menyambut kontolku dengan erat. Aku mendorongnya dalam-dalam, menembus setiap lekuk memeknya.

“OHHHH!!!” Siska menjerit nyaring, kini dengan dua kontol menancap di dua lubang tubuhnya yang berbeda. “AHHHH!!! Gila!!! Enak banget!!! Ferdi, Ndi!!! Jangan berhenti!!!”

Aku mulai memompa Siska dengan ritme yang cepat dan brutal. Dari belakang, Andi juga mulai bergerak, mendorong kontolnya masuk dan keluar dari pantat Siska.

“Lihat aku, Siska!” Aku mencengkeram dagunya. “Lihat bagaimana kontol suamimu dan kontol temanmu menghancurkanmu! Rasakan bagaimana memekmu dan bokongmu diisi penuh!”

“Ahhh, Ferdi! Ohhh! Enak! Enak sekali!” Siska mendesah, matanya berputar liar di kepalanya, tubuhnya gemetar hebat. Payudaranya bergetar naik turun, kedua tangan Andi meremas payudaranya, sementara tanganku meremas pinggulnya, memaksanya menerima setiap dorongan kami.

Suara desahan Siska, erangan Andi, dan dengusan nafsu dariku memenuhi ruangan. Bau keringat, cairan tubuh, dan aroma seks yang semakin pekat membuat suasana semakin panas dan kotor.

Aku membungkuk, mengulum bibir Siska, menciumnya dengan kasar, mencicipi air matanya yang asin bercampur dengan lendir liur dan gairah. Lidahku menjelajahi mulutnya, sementara kontolku terus memompa memeknya, dan dari belakang, kontol Andi memompa pantatnya.

“Gila, Siska! Kau jalang paling hot!” Andi mendesah dari belakang, tangannya menampar pantat Siska yang montok. “Aku akan isi kau sampai tumpah!”

“Isi aku, Ndi! Isi aku! Ferdi, jangan berhenti! Kontolmu keras sekali! Enak! Ohhh, enakkk!” Siska menjerit, suaranya sudah seperti binatang buas yang sedang birahi.

Kontolku dan kontol Andi beradu di dalam tubuh Siska. Aku bisa merasakan dinding memeknya yang menjepit kontolku, sementara dari belakang, aku bisa mendengar suara plop basah kontol Andi yang menembus pantat Siska.

Siska mulai gemetar hebat. Matanya memejam rapat, tubuhnya melengkung, dan ia mulai menjerit histeris. “Ahhhhhhh!!! OHHHHHH!!! AKU KELUAR!!! AKU KELUARRR!!! LEBIH CEPATTTT!!!”

Aku mempercepat doronganku, begitu pula Andi. Kami berdua memompa Siska dengan gila-gilaan, seolah ingin merobeknya menjadi dua. Tubuh Siska melayang di antara kami, menerima setiap hentakan dengan desahan gila.

Tiba-tiba, tubuh Siska menegang, kejang hebat, dan ia menjeritkan namaku dan Andi secara bersamaan. Cairan membanjiri memeknya, membasahi kontolku dan sprei di bawahnya. Aroma orgasme yang kuat menyebar.

Melihat Siska yang sudah basah dan lemas karena orgasme, gairahku mencapai puncaknya. Aku menekan tubuhku lebih dalam, memompa kontolku sekuat tenaga, dan dengan satu erangan terakhir, aku membanjiri rahim Siska dengan semua spermaku yang panas dan kental.

Bersamaan denganku, Andi juga menjeritkan nama Siska. Ia mendorong kontolnya dalam-dalam ke pantat Siska, dan membanjiri lubang anusnya dengan spermanya yang hangat.

Kami bertiga tergeletak lemas di ranjang, bersimbah keringat, lendir, dan sperma. Siska terengah-engah di antara kami, tubuhnya basah kuyup, memeknya masih basah, dan pantatnya masih mengeluarkan sedikit cairan dari kontol Andi.

Keheningan kembali menyelimuti kamar, namun kali ini bukan keheningan mencekam. Ini adalah keheningan yang dipenuhi rasa lelah, rasa puas, dan kejutan dari sesuatu yang baru saja terjadi. Aku menatap Siska, yang kini menatapku balik dengan mata sayu, bibirnya bengkak, dan wajahnya merah padam. Rasa bersalah di matanya bercampur dengan gairah yang baru saja ia rasakan.

Dan aku tahu, malam ini… telah mengubah segalanya. Bukan hanya untuk Siska dan Andi, tapi juga untukku. Gerbang menuju kegilaan baru telah terbuka.

Reviews

86 %

User Score

4 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *