semua berawal dari teman Part 2

Author Avatar

CStream

Joined: Aug 2025

Part 2: Pesta Daging dan Lubang yang Memanggil

Setelah malam pertama yang kotor dan menggila itu, hubungan antara kami bertiga berubah secara fundamental. Siska, yang tadinya malu dan merasa bersalah, kini justru seperti bunga liar yang baru saja menemukan air. Libidonya meledak, menjadi tak terkendali. Mata dan tubuhnya memancarkan gairah yang tak terpuaskan, seolah satu kali threesome telah membuka gerbang nafsu yang selama ini terkunci rapat dalam dirinya.

Aku, di sisi lain, menemukan sisi gelap dalam diriku yang tak pernah kukira ada. Amarahku telah berubah menjadi sebuah kesenangan terlarang, melihat istriku dinikmati pria lain—atau bahkan lebih dari satu pria—justru memicu kontolku untuk berdiri tegak.

Siska mulai bertingkah aneh. Setiap kali Andi datang berkunjung, entah untuk sekadar minum kopi atau alasan lain, tatapan Siska padanya menjadi lebih intens, lebih menggoda. Dan tak jarang, jika aku pergi sebentar untuk belanja atau urusan lain, aku akan pulang dan menemukan mereka berdua di kamar kami, terkadang sedang telanjang bulat, terkadang masih setengah berpakaian dengan Siska di atas pangkuan Andi. Aku tidak marah. Aku hanya akan bergabung. Bahkan, kadang aku yang akan menyeret Siska ke kamar dan menelepon Andi untuk datang.

Namun, itu hanyalah permulaan.

Suatu sore, aku pulang dari kantor dan mendapati rumah sepi. Aku mencari Siska ke sana kemari, hingga akhirnya aku melihatnya di teras rumah Ayahku, yang kebetulan rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari kami. Ayah sedang duduk di kursi goyang, dan Siska… Siska berlutut di depannya, tangannya sibuk mengurut paha Ayah yang sudah beruban. Pemandangan itu, meskipun seharusnya normal, terasa ganjil. Terlalu intim.

Malam harinya, Siska tiba-tiba bersikap sangat manja padaku. Ia memelukku erat-erat, mencium leherku, dan berbisik, “Ferdi, aku ingin kau lebih nakal malam ini.”

Aku menuruti keinginannya. Aku menciumnya, menjilatnya, meremas tubuhnya. Tapi saat aku mendekati memeknya, aku mencium aroma yang berbeda. Aroma yang lebih… tua? Lebih maskulin, tapi bukan seperti Andi.

“Kau habis dari mana tadi, sayang?” aku bertanya, sambil terus menjelajahi tubuhnya.

Siska hanya tersenyum nakal. “Aku cuma membantu Ayahmu memijat kakinya, Ferdi. Kakinya pegal.”

Aku tidak terlalu memikirkannya. Kami bercinta malam itu, dengan gairah yang tak kalah liar dari biasanya. Namun, bayangan Siska yang berlutut di depan Ayahku terus mengganggu pikiranku.

Beberapa hari kemudian, sebuah kejadian lain terjadi. Saat aku sedang membantu Pak RT desa kami memperbaiki genteng yang bocor di rumahnya, Siska datang membawa teh dan makanan ringan. Ia mengenakan celana pendek yang ketat dan baju kaos tipis, memamerkan lekuk tubuhnya yang indah. Aku melihat Pak RT yang sudah paruh baya itu menatap Siska dengan tatapan yang penuh gairah.

Siska, bukannya malu, malah membalas tatapan itu dengan senyum manja. Ia bahkan dengan sengaja membungkuk di depan Pak RT, memamerkan belahan payudaranya yang montok. Pak RT menelan ludah, matanya tak bisa lepas dari dadanya.

Malam itu, saat kami berdua di ranjang, aku bertanya, “Siska, apa yang kau lakukan tadi di rumah Pak RT?”

Siska hanya tertawa kecil. “Aku hanya bersikap ramah, Ferdi. Kau tahu Pak RT orangnya baik. Aku juga tadi membantunya mencarikan tang yang hilang di gudang.”

Aku tidak bertanya lebih lanjut, tapi aku tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum itu. Hasrat Siska semakin liar, dan aku mulai menyadari bahwa ia tidak lagi membatasi dirinya pada Andi saja.


Puncak kegilaan itu tiba pada suatu sabtu malam. Aku sedang bersantai di ruang tamu, membaca buku, saat ponselku berdering. Itu Andi.

“Ferdi… uhm… aku sedang di rumahmu… ini… Siska… dia…” Suara Andi terdengar gelagapan.

Aku segera bangkit dan menuju kamar tidur kami. Saat aku membuka pintu, pemandangan di dalamnya membuat napas ku tercekat.

Ranjang kami. Ranjang itu kini menjadi arena pesta seks yang paling gila dan tak senonoh yang pernah kubayangkan.

Siska telanjang bulat di tengah ranjang, kedua kakinya terangkat tinggi, bertumpu pada bantal. Di antara kedua kakinya, kontol Andi sedang menancap dalam di memeknya, memompa dengan cepat dan penuh nafsu. Siska mendesah-desah, matanya terpejam, wajahnya memerah padam.

Itu sudah cukup gila, tapi bukan itu yang membuatku terkejut.

Di samping Siska, ada Ayahku. Telanjang bulat, kontolnya yang sudah menua tapi masih cukup keras, sedang menjilati klitoris Siska dengan penuh semangat. Janggut putih Ayahku basah oleh lendir Siska. Siska sesekali menunduk, mengelus rambut Ayahku, dan berbisik, “Ayah… enak… lebih dalam, Ayah…”

Dan yang lebih parah, di sisi lain Siska, Pak RT desa kami, juga telanjang. Kontolnya yang pendek dan gemuk sedang berusaha masuk ke lubang pantat Siska yang basah. Siska mendesah kesakitan dan kenikmatan sekaligus. “Pelan-pelan, Pak RT… lubangku sempit… tapi… masuk saja… ahhh…”

Jadi… foursome. Dengan istriku, temanku, Ayahku, dan Pak RT. Di ranjang kami.

Amarahku memuncak lagi, namun kali ini, gairah dan rasa ingin tahu yang aneh itu jauh lebih kuat. Aku melihat Siska yang dipenuhi oleh tiga pria sekaligus, memeknya diisi Andi, klitorisnya dijilati Ayahku, dan pantatnya dimasuki Pak RT. Dia tampak… sangat bahagia. Sangat menikmati.

“APA-APAAN INI?!” teriakku, tapi kali ini suaraku lebih seperti sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

Mereka semua terkesiap. Andi membeku di atas Siska, Ayahku mengangkat kepalanya dari memek Siska, dan Pak RT menarik kontolnya dari pantat Siska.

“Ferdi!” Siska menjerit, tapi kali ini bukan karena takut. Ada sedikit… kegembiraan di dalamnya. “Kau datang!”

“Jadi… ini pestamu?” Aku bertanya, suaraku rendah dan serak.

Siska mengangguk, napasnya terengah-engah. “Mereka semua ingin merasakan aku, Ferdi. Dan aku… aku tidak bisa menolaknya. Aku… aku ingin merasakan mereka semua.”

Aku menatap Ayahku. Wajahnya memerah, kontolnya masih tegak. “Ayah… apa yang Ayah lakukan dengan istri anak Ayah sendiri?”

Ayahku menunduk. “Maafkan Ayah, Nak… Ayah… Ayah tidak bisa menahannya. Istrimu… dia begitu menggoda…”

Aku menatap Pak RT. “Pak RT! Anda orang terhormat di desa ini!”

Pak RT hanya meringis, kontolnya masih meneteskan pre-cum. “Ferdi… maafkan saya. Istrimu… dia seperti bidadari. Siapa yang bisa menolak?”

Aku menghela napas panjang. Amarahku bergejolak, tapi di balik itu, aku merasakan kontolku mulai menegang lagi. Aku melihat Siska, dikelilingi tiga pria, lubangnya basah, payudaranya bengkak, tubuhnya siap untuk lebih.

“Sudahlah,” kataku. “Kalau sudah seperti ini, tidak ada gunanya berpura-pura.” Aku mulai melepaskan pakaianku satu per satu. “Jika kalian semua ingin merasakan istriku, maka kalian harus tahu bahwa aku juga akan ikut bersenang-senang.”

Mata Siska membelalak, lalu ia tersenyum lebar, senyum yang penuh nafsu dan kegilaan. “Ferdi! Kau akan ikut?”

“Tentu saja,” kataku, kontolku kini sudah berdiri tegak. “Ranjang ini ranjangku. Istri ini istriku. Aku juga berhak menikmati pestanya.”

Aku melangkah mendekati ranjang, menyingkirkan Ayahku yang masih berlutut di samping Siska. “Ayah, minggir sebentar.”

Ayahku menurut. Aku berlutut di depan Siska, menatap memeknya yang basah kuyup dan masih sedikit mengeluarkan lendir dari kontol Andi. Aku melihat klitorisnya yang bengkak dan memerah karena dijilati Ayahku.

Aku menjilat klitorisnya. “Mmmhh… manis sekali, sayang. Ayahku tahu cara menyenangkanmu, ya?”

Siska mendesah, punggungnya melengkung. “Ahhh… Ferdi… hisap lebih kuat… ahhh!”

Sementara aku sibuk menjilati memek Siska, aku memberi isyarat kepada Ayah dan Pak RT. “Ayah, Pak RT. Jangan malu-malu. Kalian sudah telanjang. Sekarang nikmati saja istriku.”

Ayahku, yang tadinya canggung, kini melihatku ikut terlibat, keberaniannya muncul kembali. Ia kembali mendekati Siska, menunduk, dan kali ini ia mulai menghisap salah satu payudara Siska dengan rakus. Pak RT juga tidak mau ketinggalan. Ia mendorong kontolnya yang pendek dan gemuk itu kembali ke lubang pantat Siska, berusaha memasukinya dengan paksa.

Siska kini mendesah, menjerit, dan mengerang secara bersamaan. Klitorisnya kujilati, payudaranya dihisap Ayahku, memeknya diisi Andi, dan pantatnya dimasuki Pak RT. Ia dikepung oleh empat pria sekaligus, tubuhnya menjadi medan perang nafsu.

“AHHHHHHHH!!! FERDI! AYAH! ANDI! PAK RT! INI SUNGGUH GILAAAAA!!!” Siska menjerit, tubuhnya bergetar hebat. “Aku tidak bisa menahannya lagi! Enak sekali! Lebih dalam! Lebih cepat!”

Andi mulai memompa Siska dengan ritme yang semakin cepat. Pak RT juga mulai memaju-mundurkan kontolnya di pantat Siska, meskipun dengan kesulitan. Ayahku mengulum payudara Siska dengan penuh nafsu, tangannya meremas payudara Siska yang lain.

Aku mengangkat kepalaku dari memek Siska. “Andi, keluar sebentar.”

Andi menurut, menarik kontolnya yang basah dari memek Siska. Siska menjerit kecewa.

“Jangan khawatir, sayang,” kataku. Aku membalikkan tubuh Siska, membuatnya berlutut di ranjang, memamerkan memek dan pantatnya yang menganga di depan kami. “Aku ingin melihatmu dinikmati dari semua sisi.”

Reviews

93 %

User Score

2 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *