semua berawal dari teman Part 3 end
“Jangan khawatir, sayang,” kataku. Aku membalikkan tubuh Siska, membuatnya berlutut di ranjang, memamerkan memek dan pantatnya yang menganga di depan kami. “Aku ingin melihatmu dinikmati dari semua sisi.”
Siska terengah, wajahnya merah padam, rambutnya acak-acakan. Ia mematuhi permintaanku, berlutut dengan lutut sedikit terbuka, pantatnya terangkat tinggi, dan kedua lobang miliknya, memek dan silitnya, menganga lebar, basah dan siap dicicipi. Dari posisinya, kami bisa melihat bulu-bulu tipis di memeknya yang basah kuyup, bibir memeknya yang bengkak dan merah, serta lubang silitnya yang berkerut, sedikit basah dan masih ditarik-tarik oleh kontol Pak RT yang kini mencoba masuk lebih dalam.
“Sialan, Pak RT, kontolmu keras sekali!” Siska mendesis, tapi nada suaranya lebih ke arah kegirangan daripada sakit. “Tapi kok nggak masuk-masuk, sih? Ayo, tusuk yang dalam!”
Pak RT, yang umurnya mungkin sudah kepala lima tapi gairahnya masih membara seperti remaja, mendengus frustrasi. “Kontol tua ini kadang memang agak bandel, Neng Siska. Tapi pasti akan kutemukan jalan ke dalam silitmu yang sempit ini!” Ia meludah di antara giginya, lalu memegang pinggul Siska, mencoba menyesuaikan sudut. Kontolnya yang besar, tebal, dan sedikit melengkung, kini terus-menerus menggesek tepi lubang silit Siska, meninggalkan jejak lendir transparan.
Aku menatap Siska, matanya mendesah penuh nafsu. “Bagaimana, Siska? Kamu suka semua mata memandangmu seperti ini? Menikmati pemandangan memekmu yang basah dan silitmu yang mengundang?”
“AHHHH! Suka, Ferdi! Suka sekali!” Siska mendesah, kepalanya menoleh sedikit ke belakang, menatap kami dengan tatapan memohon dan liar. “Ini gila! Aku merasa… aku merasa seperti bitch murahan yang pantas dicocol semua kontol kalian! Ayo, jangan cuma dilihat! Masuk! Masuk lagi!”
“Nah, itu baru Siska yang kuinginkan,” aku menyeringai. Aku menunjuk ke memeknya yang berkedut. “Andi, kau yang pertama, masuk lagi ke memeknya. Tunjukkan padanya bagaimana kontolmu bisa membuat dia gila.”
Mata Andi langsung berbinar. Tanpa menunggu aba-aba kedua, ia mendorong tubuhnya ke depan. Kontolnya yang masih tegang dan basah langsung menggesek bibir memek Siska, dan dengan satu dorongan kuat, plop! Kontol Andi kembali menembus masuk ke dalam memek Siska yang sangat becek.
“OHHHH! Ya Tuhan, Andi! Kontolmu! Masuk lagi!” Siska menjerit, tubuhnya melengkung ke depan. Ia mencengkeram sprei dengan kedua tangannya, jari-jarinya memutih. “Ahhh, nikmatnya! Gerakkan, sayang! Gerakkan!”
Andi mulai memompa. Kontolnya yang panjang menghantam dalam-dalam, membuat Siska mengerang keras. Setiap kali ia menarik keluar sedikit dan mendorong masuk lagi, suara cip-cip-cip dari gesekan kontol dengan memek Siska memenuhi ruangan. Lendir bening kini bercampur dengan cairan Siska, mengalir deras dari lobang memeknya, menetes ke ranjang.
Sementara Andi sibuk menghajar memek Siska, Ayahku tak tinggal diam. Ia kini bergerak di samping Siska, mendekatkan wajahnya ke bahu Siska, menghisap lehernya dengan brutal, meninggalkan jejak merah keunguan. Tangannya yang satu masih meremas payudara Siska dengan kasar, sementara tangan yang lain kini mulai bergerak turun. Jari-jari Ayahku yang kasar dan sedikit keriput kini menyusup ke sela-sela paha Siska, meraba-raba bokongnya yang montok.
“Siska, memekmu terlalu enak untuk dilewatkan. Tapi silitmu juga terlihat sangat menggoda,” bisik Ayahku dengan suara serak, napasnya panas menerpa telinga Siska. Ia mulai menusuk-nusuk lubang silit Siska dengan jari telunjuknya, melonggarkan sedikit jalan untuk Pak RT.
“AHHHHHH! Ayah! Jangan! Ahhh… itu geli!” Siska menggeliat, tapi suaranya lebih mirip desahan penuh kenikmatan daripada penolakan. “Ayah… jari Ayah… di silitku! Ahhh, panas! Pak RT, ayo masuk! Jari Ayah sudah membuka jalan!”
Mendengar itu, Pak RT semakin bersemangat. Ia meludah lagi, matanya menyala. Dengan satu tarikan napas panjang, ia memegang pinggul Siska erat-erat, mengarahkan kontolnya yang besar dan keras tepat di depan lubang silit Siska yang kini sedikit terbuka karena jari Ayah.
“Neng Siska, siap-siap! Kontol Pak RT akan menembus pertahananmu!” Pak RT meraung, dan dengan dorongan yang kuat, plop!
“AAARRRGGHHH!” Siska menjerit kencang. Kali ini, ada sedikit rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan. Kontol Pak RT berhasil menembus masuk ke dalam silitnya yang sempit. Perlahan tapi pasti, kontolnya mulai masuk lebih dalam, meregangkan lubang silit Siska yang belum pernah merasakan kontol sebesar itu. “Sakiiit! Tapi… ohhh… enak! Enak sekali, Pak RT! Pelan-pelan! Tapi terus masuk!”
Wajah Pak RT merah padam karena usaha. Ia mendengus-dengus, keringat bercucuran dari dahinya. Dengan setiap inci kontolnya yang masuk, Siska menggeliat dan mendesah semakin keras. “Sempit sekali, Neng Siska! Tapi ini kontol Pak RT pasti akan membuatmu ketagihan!”
Kini, Siska benar-benar berada di antara dua kontol yang menghantamnya dari dua arah. Andi menghajar memeknya dengan ritme cepat dan agresif, sementara Pak RT perlahan-lahan menembus silitnya dari belakang.
Aku berdiri di samping Siska, mengamati pemandangan yang paling erotis yang pernah kusaksikan. Memek Siska yang bengkak dan merah, dilubangi oleh kontol Andi, terus-menerus memuntahkan cairan. Sementara silitnya yang kini meregang hebat oleh kontol Pak RT, terlihat tegang dan sedikit kemerahan. Ayahku masih mengelus-elus pantat Siska, kadang menekan kontol Pak RT agar masuk lebih dalam, dan sesekali mencubit puting Siska yang tegang.
“Bagaimana rasanya, Siska? Dicocol dari depan dan belakang? Apakah itu cukup untuk membuatmu orgasme sampai berteriak?” aku bertanya, suaraku rendah dan mengintimidasi.
“AHHHH! FERDI! Ini… ini gila! Aku tidak bisa berpikir! Aku tidak bisa menahan! Kontol Andi terlalu dalam! Kontol Pak RT terlalu besar! Ini membuatku gila!” Siska menjerit, suaranya parau karena orgasme yang semakin dekat. “Aku akan keluar! Aku akan ngecrot! Aku bisa merasakannya datang!”
Andi mempercepat tembakannya, kontolnya menghantam memek Siska dengan kecepatan brutal. “Keluar, sayang! Keluarkan semua! Aku ingin memekmu membasahi kontolku sampai tumpah-tumpah!”
Pak RT juga mulai menemukan ritmenya, mendorong kontolnya yang kini sudah masuk hampir penuh ke dalam silit Siska. “Rasakan ini, Siska! Kontol Pak RT ini akan membuatmu kecanduan lobang belakangmu!”
Siska menjerit lagi, kali ini lebih seperti lolongan liar. Tubuhnya bergetar hebat, air matanya bercampur dengan keringat. Otot-otot di seluruh tubuhnya menegang, kakinya gemetar dan hampir tidak bisa menopang berat badannya. Ia terhuyung ke depan, dahinya menyentuh ranjang.
“AKU KELUAR! AHHHHH! AKU KELUAR! YA TUHAN, YA TUHAN! INI TERLALU ENAK!” Siska meraung. Memeknya berkedut keras, mengulum kontol Andi dengan kejang-kejang orgasme. Cairan bening, kental, dan panas menyembur keluar dari memeknya, membasahi pangkal kontol Andi dan merembes ke ranjang.
“Oh, gadis nakalku,” aku berbisik, mendekat. Aku menjambak rambut Siska dengan lembut, menarik kepalanya ke belakang sehingga ia bisa melihatku. Matanya berkaca-kaca, penuh kenikmatan yang luar biasa. “Lihat, Siska. Kau basah kuyup karena kontol-kontol ini. Dan belum selesai. Masih ada aku.”
Aku membiarkan Andi dan Pak RT terus menembak. Siska masih kejang-kejang, tubuhnya lemah tapi memeknya masih menggigit kontol Andi dengan erat. Aku kemudian menarik kontolku sendiri yang sudah tegang dan basah karena foreplay tadi. Aku membelai kepalanya yang merah dan licin.
“Ayah, kau sudah cukup mengulum puting Siska. Sekarang giliranku,” kataku pada Ayah, yang masih sibuk mengelus pantat Siska. Ayah mengangguk, melepaskan payudara Siska, lalu mengambil posisi di belakang Pak RT.
Aku berlutut di depan Siska, memposisikan kontolku tepat di depan mulutnya yang masih sedikit terbuka, terengah-engah.
“Buka mulutmu, sayang,” aku memerintah. “Kau sudah membiarkan memek dan silitmu dinikmati. Sekarang, kontolku ingin kau nikmati juga dengan mulut manismu.”
Siska, dalam sisa-sisa orgasme dan gairah yang membuncah, menatap kontolku yang menari di depan wajahnya. Perlahan, dengan tatapan memohon, ia membuka bibirnya. Aku mendorong kontolku masuk, dari ujung hingga pangkal.
“Mmmmph!” Siska tersedak, tapi ia menerima kontolku. Lidahnya mulai menjilati, menghisap, dan mengulum kontolku dengan keahlian yang mengejutkan, meskipun ia masih kesakitan dan kejang-kejang akibat orgasme sebelumnya.
Aku mendesah nikmat. Kontolku terasa panas dan kencang di dalam mulutnya yang hangat. Sementara aku menikmati hisapan Siska, Andi masih menghajar memeknya dengan brutal, dan Pak RT masih memompa silitnya dengan keras. Ayah kini menempatkan dirinya di belakang Pak RT, tangannya mengelus punggung Siska, dan kontolnya yang sudah tegang kini mulai menggesek-gesek pantat Siska, menambahkan tekanan pada Pak RT untuk masuk lebih dalam.
“Sialan, Siska, kau benar-benar pelacur yang luar biasa,” Andi mendesis di telinga Siska, sambil terus memompa. “Semua lobangmu basah dan siap dicocol. Aku tidak bisa menahan lagi!”
“Aku juga tidak bisa!” Pak RT menggeram, kontolnya menghantam dinding silit Siska dengan bunyi plop yang dalam.
Siska kini merasakan kontolku di mulutnya, kontol Andi di memeknya, dan kontol Pak RT di silitnya. Sebuah rentetan kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan. Ia mulai bergerak sendiri, menaik-turunkan kepalanya, menghisap kontolku lebih dalam. Air liurnya bercampur dengan lendir kontolku, membuatnya semakin licin.
“Good girl,” aku mendesah, menjambak rambutnya lagi, membimbing gerakannya. “Hisap lebih dalam, lebih cepat. Aku ingin kau merasakan kontolku sampai ke tenggorokanmu.”
Siska menurut, melahap kontolku dengan rakus. Sementara itu, di belakang, Andi dan Pak RT mencapai titik puncaknya.
“AHHHHHHHH! AKU KELUAR! AKU TIDAK TAHAN LAGI!” Andi menjerit, kontolnya berkedut hebat di dalam memek Siska. Ia menyemburkan cairan panasnya jauh ke dalam rahim Siska, mengisi memek Siska sampai meluber. Ia menggeram puas, menjatuhkan kepalanya ke punggung Siska, napasnya tersengal-sengal.
Hampir bersamaan, Pak RT juga meraung. “INI DIA! KELUAR! NENG SISKA, KONTOL PAK RT NGECROT DI SILIIT MU!” Kontol Pak RT menembakkan cairan putih kental ke dalam silit Siska. Silit Siska berkedut dan mengencang, berusaha menahan semua cairan panas itu. Pak RT mendesah panjang, menekan tubuhnya ke pantat Siska.
Siska merasakan tiga kontol sekaligus, dua di lobang pribadinya dan satu di mulutnya. Ia merasa penuh, basah, dan benar-benar tak berdaya. Tubuhnya gemetar hebat lagi, orgasme yang baru saja datang terasa lebih intens dari sebelumnya, dipicu oleh semburan sperma di dalam dirinya.
“OHHHH! AKU KELUAR LAGI! AKU KELUAR LAGI! YA TUHAN, INI TERLALU BANYAK! AKU AKAN MATI KARENA NIKMAT!” Siska menjerit histeris, memeknya kembali menyemburkan cairan, bercampur dengan sperma Andi, membanjiri paha dan ranjang.
Aku merasakan kontolku berkedut di dalam mulut Siska. Aku tidak bisa menahan lagi. Dengan dorongan terakhir, aku menarik kontolku dari mulutnya, dan menyemburkan cairan kental ke wajah Siska, menutupi hidung, pipi, dan dagunya dengan sperma putih panas.
“Itu untukmu, sayang,” aku mendesah, napas tersengal-sengal. “Kuharap kau menikmati persembahanku.”
Siska terbatuk, wajahnya berlumuran sperma, rambutnya basah oleh keringat, dan air liurnya menetes dari sudut bibir. Ia jatuh telungkup di ranjang, tubuhnya kejang-kejang sisa orgasme. Lobang memek dan silitnya menganga lebar, basah kuyup oleh campuran lendir, air mani, dan cairan tubuh. Bau keringat, sperma, dan gairah memenuhi udara, tebal dan memabukkan.
Kami semua berdiri terengah-engah, memandang Siska yang tergeletak lemas, benar-benar hancur karena kenikmatan. Aku menyeringai, mataku liar.







